Minggu, 18 September 2011

2. Pelarian Tanpa Arah (part 2)

Saat ini adalah pelarian kedua dan tetap menjadi pelarian yang maha aneh. Tidak banyak lagi orang-orang yang berlari bersama-sama, tidak banyak lagi suara-suara aneh dari kejauhan. Semuanya menyisakan saya, keheningan, dan seseorang berbaju putih yang nampak beberapa meter tidak jauh di depan. Bergegas saya mempercepat dan memperlebar langkah. Berharap dapat mengimbangi kecepatan pelari tersebut. Dari kejauhan sedikit demi sedikit saya mempercepat langkah kaki begitu menyadari orang tersebut masih menapakkan kakinya ke bumi. 

Ternyata mengimbangi kecepatannya tidak begitu sulit. Saya sedikit kagum dengan stamina yang saya miliki hingga kini kami berdua lari beriringan. Ternyata Publish Postdia seorang wanita, berperawakan manis, dan terlihat sedikit bersemangat walau sepertinya menyimpan berbagai misteri. Tak lama, kami memulai pembicaraan dan tak lama pula pembicaraan tersebut entah mengapa mengerucut kepada kakek tua yang saya temui di awal pelarian ini.

"Pria tua itu tidak suka dengan baju putih, khususnya seorang wanita yang mengenakannya", tukasnya. Ia pun bercerita lelaki tersebut memaksanya melakukan putaran kedua. Berbeda dengan saya, wanita tersebut dibentak dan ditendang kakek tersebut. Saya kaget, saya pun membayangkan bagaimana bisa seorang kakek renta tersebut bisa sangat galak. Ketika saya bertanya mengapa kakek tersebut sangat tidak menyukai wanita berpakaian putih, wanita tersebut terdiam sesaat sebelum melanjutkan jawabannya. 

"Tidak terlalu jelas", ucapnya. 
"Yang saya tahu dahulu ia mempunyai seorang cucu yang sangat senang mengenakan gaun putih"
"Kemana mana ia mengenakan gaun tersebut, bahkan ketika sang kakek memberikan baju baru kepadanya, ia tetap tidak ingin melepaskan gaunnya.."

"Apa yang spesial dari gaun tersebut?", sedikit saya memotong kata -kata wanita tersebut
"Gaun tersebut pemberian orang tuanya, orang tua kini tidak jelas keberadaannya. Kabarnya sang ibu menghilang ketika ia mulai mengenakan gaun tersebut."

Saya sedikit menarik dagu  kebelakang karena sedikit bingung mencari-cari alasan mengapa sang kakek amat membenci wanita berpakaian putih. Begitu terjaga dari lamunan, saya sadar wanita di samping saya sudah menghilang. Sepertinya ia meninggalkan saya ketika pelarian sudah mendekati finish. Saya melakukan lompatan di penghujung jalan yang mengarahkan saya ke ruang dimana sang kakek berada. Lagi-lagi sang kakek mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya. dan kembali mengarahkan saya ke kotak harta yang dijaga seorang wanita. 

Tiap langkah yang saya ambil memang penuh kebingungan dan kini saya menghadapi kebingungan terbesar. Sebuah kotak akan terbuka, sebuah kotak yang membuat saya berlari hampir 1 hari penuh. Apa isi kotak tersebut? Apakah penting? 

Begitu sang penjaga memutar kunci yang disematkan ke lubangnya, isi kotak tersebut mulai terlihat samar-samar. Saya menerka isinya adalah dua tumpuk uang dollar yang sangat bersih karena memang terlihat terang, namun saya kaget dan seketika memalingkan muka ke arah sang kakek. Dan melihatnya melotot sambil tersenyum sangat lebar tanpa suara, seperti seorang joker yang sangat amat berbahagia. Saya kaget! Sebuah penggalan kepala wanita bersorban putih terbelalak kaku di kotak tersebut. Ketika saya memalingkan wajah yang kedua kalinya ke arah kakek tersebut, saya tersentak. Saya terbangun di atas ranjang, bingung. Semuanya terasa begitu nyata, terlebih lagi ketika saya hendak bertanya kepada sang kakek.

"Bagaimana bisa wanita yang dipenggal kepalanya menemani saya berkeliling rumah, melakukan putaran kedua, dan berbaik hati bercengkrama dengan saya?"

Saya selamat, saya selamat...

0 comments:

Posting Komentar

Sepatah dua patah kata akan mendekatkan kita ^^