Kamis, 19 Mei 2011

6. Indonesia dan Sampah, 45 Tahun ke Depan

Berhari-hari yang lalu saya terduduk bosan, pusing, dan lapar dalam perjalanan pulang dari Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya bukan backpacker saat itu, hanya seseorang yang ingin cepat-cepat keluar dari bus dan menikmati empuknya ranjang di rumah. Hari itu hari sabtu, sore, dan sepertinya semua orang berpikiran yang sama, kembali ke Bogor, kota  yang masih dapat dikatakan cocok untuk bermukim. 

Yang dapat dilakukan hanya duduk, menolehkan kepala ke kiri untuk sedikit mengintip pemandangan di luar. Jangan banyak berharap, tidak ada pemandangan indah layaknya karangan prosa sewaktu SD, yang ada hanya satu garis sungai yang lebar menyisiri jalan, berwarna hitam, bertaburan sampah, dan bertuliskan "dilarang buang sampah ke sungai" di bagian tepinya. Memang sepertinya tidak banyak harapan tuk hal tersebut di masa kini. Saya bertanya, bagaimana dengan masa depan?

Sejauh yang saya tahu pertumbuhan penduduk di Indonesia melebihi 4 persen. Sebagai seseorang yang mendapatkan edukasi di bidang pangan, saya yakin betul bahwa suatu saat akan ada kekurangan makanan kalau pola makan kita tidak diubah. Itu semua karena semua memakan nasi dan orang-orang bertambah secara logaritmik. Satu keluarga menghasilkan minimal 2 atau bahkan sampai 4. Itu artinya bertambahlah orang yang membutuhkan makan.

Bagaiman dengan waste? Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang seharusnya diturunkan pada anak cucu, oleh karena itu namanya ilmu pengetahuan. Celakanya, entah bagaimana saya mempunyai keyakinan bahwa saat hanya sedikit sekali keluarga yang mengajarkan cara tepat buang sampah pada anaknya. Bahkan, anak-anak mendapat contoh membuang sampah di sungai ataupun tempat-tempat instan lainnya. 

Apabila logika seperti yang terjadi pada pangan diterapkan pada kasus sampah. Apa jadinya bila satu keluarga menghasilkan 2 sampai 4 orang pembuang sampah baru di luar sana dan nantinya tiap-tiap orang tersebut akan menghasilkan keturunan yang sama lainnya dan terus berlipat ganda. Saya tidak berani membayangkan hal tersebut. Negeri ini bisa-bisa tenggelam lebih dahulu sebelum adanya pencairan es kutub, tentunya oleh sampah. 

Saya memang bukan penggerak sosial dalam bidang lingkungan, tapi saya selalu mencoba membantu gerakan mereka dengan menahan diri tuk membuang sampah pada tempatnya. Hari itu saya berterima kasih pada mereka yang terus bergerak di bidang lingkungan, terutama mengenai masalah sampah. Bagaimana dengan anda, apa yang bisa anda bantu?

2 comments:

Huda mengatakan...

berterimakasih kepada mereka yang terus bergeral dibidang lingkungan??siapa tuu..hhe..

kidding gy..

nice post btw..

gigilokuning mengatakan...

@huda hahaha yang jelas bukan bukan c bagus lah da...hihi

buat semua orang. termasuk u juga dong..

Posting Komentar

Sepatah dua patah kata akan mendekatkan kita ^^