Kamis, 09 Juni 2011

8. Nilai Merah Terhadap Satu Kreativitas

Memberikan waktu bagi pikiran untuk bernafas ternyata terbukti efektif mengembalikan beberapa cerita lama yang (mungkin) akan terlupakan di kemudian hari. Ingatan itu anugerah, atau dapat dikatakan harta karun yang dapat terkubur sepanjang masa di dalam sela-sela guratan tipis otak apabila tidak pernah diungkap kembali ke permukaan sadar pemikiran kita. Sama halnya dengan tujuan saya menulis kali ini, sedikit mencitrakan kembali apa yang telah dialami, sekian tahun kebelakang, terhitung mulai dari saat ini. Semoga dapat tercatat dengan baik.

Masa SMP merupakan masa yang luar biasa bagi saya, bukan hanya persahabatannya. Tapi juga karena keberuntungan dan keasyikan yang diberikan. Bayangkan jadwal tiap harinya selalu sama: Masuk pagi jam 7.15, telat, lari mengitari lapangan olahraga layaknya victory run, masuk kelas, lupa mengerjakan PR, dll. Lepas dari semua itu, nilai terjaga dan bisa lulus dengan nilai cukup baik tuk masuk ke tetangga sebelah, salah satu  sekolah favorit di seantero kota.Bagaimana tidak dikatakan beruntung, disaat orang-orang bergegas pulang tuk mengerjakan PR atau les, saya malahan asyik menunggu lapangan kosong. Apalagi kalau bukan untuk bermain bola ^^. Tanpa menyesal dan mengurangi semangat orang lain tuk belajar, saya ingin mengatakan: saya cukup beruntung untuk dapat lulus dan "agak" setara dengan para pembelajar hehe..

Ada satu hal yang saya tidak pernah lupa. Suatu hal yang menjadikan bukti bahwa kemajuan pendidikan kita di saat itu sangat lambat layaknya donlod dengan modem termurah. Bagaimana tidak? Kreativitas selalu dianggap sebagai barang mewah yang sangat jarang dan bahkan dianggap tidak mungkin ada tanpa adanya proses plagiatisasi. Begini ceritanya:
Suatu saat semua murid kelas 2 (sekarang mungkin kelas 10 atau tergantung menteri pendidikan kita sukanya angka berapa) diberikan tugas untuk menulis suatu karangan, karangan sederhana, apapun boleh. Dari sekitar 40-an di dalam kelas semuanya menulis cerita layaknya anak SD, yaaa...saya juga termasuk di kumpulan 40-an anak tersebut.  Cerita macamnya pengalaman liburan panjang, ke rumah nenek, membantu nenek, pergi ke mana...bla..bla..., namun ada yang menarik. Dua orang ternyata melakukan hal yang berbeda, mereka membuat suatu cerita yang sangat fiktif, dituliskan rapi di atas kertas buram, lalu menumpukkannya di bagian tengah tumpukan tugas di meja ketua kelas. Cerita ini belum menjadi seru tentunya, sebelum tugas dan nilainya dikembalikan ke para siswa yang terkadang lupa akan tugas apa yang sudah selama ini mereka kumpulkan. Lagi-lagi kedua orang tersebut menjadi istimewa, hanya merekalah yang mendapat nilai merah. Tertulis di bagian atasnya "jangan mencontek karya penulis".
Saya sudah membaca naskah tersebut dan berani menjamin bahwa tulisan mereka sangat bagus, benar-benar bagus, dan menjamin pula bahwa selama saya hidup belum pernah ada tulisan seperti itu di majalah ataupun buku cerita. Saya pun menjamin bahwa jawaban mereka akan pertanyaan "apakah lo menyadur?" Dijawab mereka dengan lantang, TIDAKK! Setelah 8 tahun terlewati, saya sekarang hanya dapat berkata seharusnya tidak begitu memperlakukan kreativitas anak bangsa. Bila anda tidak suka, setidaknya biarkan mereka hidup tanpa harus menerima tekanan yang mengharuskan merka menjadi sama.

3 comments:

ushmrkstv mengatakan...

pernah digituin juga dulu pas SMA, bikin karangan bahasa inggris. sedih pas gurunya bilang, "karangan kamu bagus, tapi lain kali coba buat sendiri." satu temen lain yang ceritanya keren banget juga digituin. sedih ya.

btw baru berkunjung ke blognya agy. keren deh, tulisan2nya inspiratif. semoga sukses ya agy!

gigilokuning mengatakan...

Wah ga tau kalo terjadi juga di belahan Indonesia yang laennya >.< Harus dibasmi!

Atika Luthfiyyah (TIKA) mengatakan...

sedih banget deh dengernya.
mungkin terlalu jenius temenmu tuh gy :)
agy..keep writing! udah jarang nulis nih kamu

Posting Komentar

Sepatah dua patah kata akan mendekatkan kita ^^